Langsung ke konten utama

Unggulan

Sapa ku kepada Langit

Haii langit, bagaimana kabar hari ini ?  Semoga baik-baik ya dan selalu baik-baik saja Hari ini hari paling menyedihkan setelah penantian 1,5th ku, ak membuang begitu saja kesempatan yang kemungkinan akan menjadi nyata Kesalahan terbesar ku dalam membuat suatu keputusan, dan sekarang ak kehilangan segala nya. Segala semoga yg ak selalu berharap semesta akan memberikan amin paling serius nya untukku Hai langit, senang bisa mengenalmu meski sesingkat senja. Senang rasaku tetap ada disini meski entah kapan waktu itu menjadi penghantar kepergian rasa ku untukmu Namun meski begitu ak tidak akan pernah mengambil alih paksa agar perasaan ku dengan cepat hilng untukmu Saat ak memilih untuk memupuk perasaan ini, aku sudah siap dengan segala konsekuensi sakit bahkan patah untuk kesekian kali Karena pada dasarnya hati akan tetap kekeh pada rasanya meski harus berujung patah berkali kali Hai langit, jika ini yang terakhir kali nya ak bersapa dengan mu, akan aku abadikan dirimu dalam satu ruang...

Tembok terbesar kami adalah tidak adanya restu keluarganya

     Aku adalah sebuah asa yang telah tertinggal dalam benak yang jauhh, sangat jauh untuk di genggam bahkan untuk di gapai kembali. aku adalah seseorang yang tidak pernah diinginkan keberadaannya terkecuali dia, iya dia. seorang laiki-laki yang saat ini mungkin bisa dibilang laki-laki yang mencintaiku dan sedang berjuang untuk mempertahankanku. 

    aku dan dia pernah menjadi seorang kekasih, jauhh sebelum kami berdua memutuskan untuk mengakhiri segala sesuatu yang terjadi diantara kami, karena sebuah pertentangan dari keluarganya. bahkan untuk berharap senja mejadi tampak begitu indah saja rasanya tidak mungkin. yahh,, itulah perumpamaan antara hubungan kami yang ditentang oleh kedua orang tuanya. 

    bagaimana bisa aku menjalani hubungan yang ditentang sedari awal, bagaimana bisa aku akan menjalani segala sesuatu nya layaknya pasangan kekasih lainnya. bagaimana jika nanti disaat aku telah begitu mencintainya namun semua harus terhenti dengan sis-sia ? bagaimana dengan keadaan ku setelah nya? aku sedang tidak ingin membuang waktu ku hanya untuk sebuah kepastian yang tidak jelas, bahkan semesta pun belum menampakkan andilnya untuk bagaimana nantinya hubungan kami kedepannya. tembok kami terlalu tinggi untuk kami yang belum sepenuhnya berjuang untuk akhir dari cerita ini.

    aku terkejar oleh usia ku sendiri, namun laki-laki yang sekarang sedang didepanku sedang berjuang untuk ini semua, meskipun belum banyak. lantas; mau sampai kapan aku harus menunggu ? apakah semesta kali ini berpihak kepadaku ? benarkah semesta akan berpihak kepadaku kali ini ?bagaimana jika semesta kali ini gagal lagi dalam memihak kepadaku. ohh tidak,, bahkan rasa sakit akan penantian yang sia-sia sudah terasa sedari hubungan ini berakhir. 

    lantas; bagaimana bisa perjalanan kisah ini dimulai tanpa restu dari keluarganya ? harus dengan cara yang bagaimana lagi agar tembok tinggi itu bisa kami lalui ? apakah kali ini semesta akan mengabulkan ketidakmungkinan yang kami tau ? 

Komentar

Postingan Populer