Langsung ke konten utama

Unggulan

Sapa ku kepada Langit

Haii langit, bagaimana kabar hari ini ?  Semoga baik-baik ya dan selalu baik-baik saja Hari ini hari paling menyedihkan setelah penantian 1,5th ku, ak membuang begitu saja kesempatan yang kemungkinan akan menjadi nyata Kesalahan terbesar ku dalam membuat suatu keputusan, dan sekarang ak kehilangan segala nya. Segala semoga yg ak selalu berharap semesta akan memberikan amin paling serius nya untukku Hai langit, senang bisa mengenalmu meski sesingkat senja. Senang rasaku tetap ada disini meski entah kapan waktu itu menjadi penghantar kepergian rasa ku untukmu Namun meski begitu ak tidak akan pernah mengambil alih paksa agar perasaan ku dengan cepat hilng untukmu Saat ak memilih untuk memupuk perasaan ini, aku sudah siap dengan segala konsekuensi sakit bahkan patah untuk kesekian kali Karena pada dasarnya hati akan tetap kekeh pada rasanya meski harus berujung patah berkali kali Hai langit, jika ini yang terakhir kali nya ak bersapa dengan mu, akan aku abadikan dirimu dalam satu ruang...

Lara

menghapus segala tinta yang telah tertulis diatas kanvas yang masih memutih

menuliskan setiap baitnya dengan tinta yang dahulu menjadi bait-bait kata membentuk sebuah cerita

berceritakan sebait demi sebait kata yang terangkai menjadi cerita bahkan menjadi sebuah intonasi memilukan, membahagiakan dan kadangkala juga sangat menyedihkan

kata cerita semakin menjadi asa harapan dalam setiap bait per katanya


hingga pada akhirnya semua menjadi suatu kesatuan yang seakan tidak akan pernah berakhir ceritanya

ironi nya semua telah berakhir menjadi sebuah lara, lara yang seakan menjadi awal daripada sebuah trauma masa lalunya 

sebuah awal trauma untuk enggan mencoba kembali menuliskan cerita yang baru, asa yang baru, dan segala tentang kebahagiaan melebihi bahagia nya malam akan bertemu dengan bintang 

tidak akan ada lagi detak jantung yang berdebar keras setiap mengingat setiap moment membahagiakan dalam sebuah pertemuan antara sepasang merpati putih yang bercengkerama diatas dahan pohon tanpa sehelai daun pun

mengapa lara kali ini masih terasa meski tertiup riuh angin 

mengapa lara kali ini bukan lagi tentang rindu yang tidak akan pernah pergi 

lara kali ini membuat segelas kopi yang menjadikannya tak lagi hangat

lara kali ini membuat riuh angin menyapu bersih setiap jejak kehilangan secara perlahan namun pasti


dan dikota ini aku titipkan setiap lara kehilangan atas pergimu

pergimu yang tak akan pernah kembali dan hanya akan menjadikanmu sebuah asa kenangan yang akan membuatku meneteskan air mata 

tanpa lara mungkin aku tidak akan pernah mengerti betapa berharganya waktu dan kebersamaan 

dan kehilangan atas kepergiaannya lah yang membuatku mengerti akan hal bahwa semua akan tetap terasa berharga jika setelah kehilangan

dan entah sampai dipenghujung tahun keberapa lara ini akan tetap ada abadi bersama kenangan yang sedang susah payah untuk dihilangkan mengikuti setiap tetes air matanya 

Komentar

Postingan Populer