Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Akhir dari sebuah perjalanan hidup
Akhir dari
sebuah perjalanan hidup
Pagi itu sinar mentari masuk melalui
celah-celah dinding yang tampak berongga diatas jendelanya. Seperti biasanya,
Ranu menyiapkan sepeda kayuhnya yang akan dia bawa ke sekolah. Pagi itu ibunya
tampak berdiri di depan pintu untuk mengantar Ranu yang akan pergi ke sekolah.
Dan tepat di sebelah rumah, Ica kakak Ranu sedang menyiapkan dagangannya untuk
di jajakan keliling komplek.
“Bu, Ranu berangkat sekolah dulu
ya. Ibu jangan lupa makan dan di minum obatnya. Ibu istirahat saja di rumah.
Daa kakak semangat ya kak jualannya hari ini, semoga laris manis”. Teriak Ranu
sembari mengayuh sepedanya menuju jalanan depan rumah.
“Heii jangan ngebut-ngebut naik
sepedanya, liatin jalan kamu, jangan ngawur”. Balas ibunya sedikit khawatir
karena melihat Ranu yang mengayuh sepeda nya begitu cepat.
“Adik selalu begitu bu kalau
dikasih tahu. Suka bandel enggak dengerin apa kata ibu sama kakak nya. Sudah ya
bu, ibu masuk saja sekarang ke dalam, istirahat. Karena Ica mau berangkat
menjajakan dagangan bu, biar enggak kesiangan. Doakan Ica hari ini semua
dagangan ini habis terjual”. Tutup Ica sembari membawa tas dagangannya
“aminnn,, semoga kali ini
dagangannya habis ya ca, dan kamu bisa pulang lebih awal lagi seperti beberapa
hari lalu”. Jawab ibu sambil tersenyum penuh harap
Seperti biasa Ica menjajakan dagangannya
melewati gang demi gang komplek yang sempit itu. Sambil berjalan dan berteriak
menjajakan dagangannya. Dengan langkah kaki yang penuh semangat dan tanpa mengeluh
meski terkadang kaki nya lelah karena melangkah begitu jauh. Namun ia harus
tetap semangat karena ada 2 orang yang bergantung kepada nya. Bagaimana tidak,
ia harus membeli obat untuk ibu nya yang tidak murah harga nya di setiap
minggunya. Dan ia masih harus membayar sekolah nya Ranu yang nunggak 2 bulan
belum ia bayarkan. Semenjak ayah nya meninggal semua tanggung jawab ada padanya
karena ibu nya mengidap Leukimia yang dimana setiap minggunya harus menebus
obat yang tidak tercover jaminan kesehatan.
“Ya Tuhan, uang yang aku
kumpulkan saja masih belum bisa untuk menebus obat ibu untuk seminggu ke depan.
Lantas bagaimana aku bisa membayar sekolah nya Ranu yang sudah nunggak 2 bulan
itu”. Gumam nya dalam hati sambil sejenak merebahkan badannya yang capek sekali
seharian sudah bekerja.
“Tokk! Tokk! Tokk! Caa, sudah
tidur belum ? boleh ibu masuk sebentar ? ibu mau bicara sama kamu sebentar
nak”. Suaraa ibu dari luar yang membuyarkan lamunan Ica malam itu
“Iya bu, masuk saja. Pintu nya
belum Ica kunci kok”
“Caa, ini ibu masih punya satu
cincin peninggalan ayah kamu. Kamu jual saja ya Ca, buat tambah bayar sekolah
adik kamu yang belum di bayar 2 bulan. Kasian nanti adik kamu tidak bisa ikut
ujian semester”. Ucap ibu sambil memberikan cincin itu ke tangan Ica
“Buu, tapi ini peninggalan ayah
satu-satunya yang masih ibu punya. Jangan bu, biar Ica saja yang memikirkan
bagaimana cara membayar uang sekolah Ranu yang masih nunggak. Ini Ibu simpan
saja ya, untuk simpanan ibu saja. Uang sekolah Ranu Ica sudah ada Bu, ibu
tenang saja ya”. Jawab Ica dengan sedikit berbohong
Malam itu adalah malam untuk kesekian
kalinya Ica berbohong kepada Ibunya perihal uang yang akan di pakai untuk
membayar uang sekolah Ranu yang nunggak. Sambil memeluk ibunya Ica menahan tangisnya
agar tidak terlihat oleh ibu nya. Begitu sakit hatinya melihat ibunya sakit,
sedang ia tidak bisa kerja yang menghasilkan uang banyak untuk membeli obat dan
melunasi uang tunggakan sekolah Ranu.
Semakin ia memikirkan dan meratapi
kesedihan dari keadaannya, semakin lelah mata dan pikirannya yang pada akhirnya
membuat ia terlelap dan tertidur. Melepas segala rasa lelah dan penat yang
melekat di badannya. Hingga tanpa terasa pagi pun telah hadir menyapa bersama
sinar matahari yang enggan lenyap seiring berlalu nya embun pagi yang menempel
pada lembaran-lembaran daun.
Pagi itu Ica tidak menjajakan dagangannya.
Karena ia berniat untuk pergi kesekolah Ranu untuk membayar tunggakan uang
sekolah dan membeli obat untuk ibu nya. Tapi pagi itu Ica tidak melihat ibunya
seperti pagi biasanya, ibunya saat itu masih terbaring diatas tempat tidur dan
seperti enggan untuk bangun.
“Buuu,, kok ibu belum bangun,
Ranu mau pamit pergi kesekolah bu. Kakak hari ini tidak jualan bu, karena kakak
bilang mau ke sekolah Ranu”. Kata Ranu sambil berlari memeluk ibunya yang masih
di atas kasur tertidur
“Ibu cepat sembuh ya, Ranu
kangen di masakin sama ibu, Ranu kangen nanam bunga di pot sama ibu, kangen
semuanya aktivitas yang Ranu lakuin bareng sama ibu”. Ranu minta maaf ya bu,
Ranu masih ngrepotin kakak terus, Ranu janji bu bakalan rajin sekolah, biar
Ranu bisa dapet beasiswa sekolah sampai kuliah nanti. Ranu mau jadi dokter bu,
biar Ranu bisa sembuhin ibuu, biar kakak tidak perlu lagi susah-susah cari uang
untuk beli obatnya ibu. Ranu sayang sekali sama ibu, ibu jangan pernah
tinggalin Ranu sama kakak ya bu, tunggu Ranu sampai sukses, bahagiain ibu dan
kakak”. Ucap Ranu yang masih terus memeluk ibunya sambil memegang erat tangan
ibu nya
Dari arah belakang tampak Ica menghampiri
Ranu yang masih memeluk ibunya.
“Buu,, Ica pergi ke sekolah Ranu
dulu ya mau bayar tunggakan uang sekolah. Setelah itu Ica mau mampir ke rumah
sakit untuk menebus resep obat ibu”. Tungkas Ica pagi itu berpamitan
“Ica juga sudah membuatkan bubur
ayam untuk ibu diatas meja, setelah ini ibu bnagun dan makan ya bu. Obatnya
tinggal satu, jangan lupa ibu minum ya. Ica sama Ranu berangkat dulu ya bu”.
Pungkas Ica
Namun kali ini tidak ada jawaban ketika
mereka berpamitan pagi itu. Ibu tetap saja diam membelakangi mereka berdua,
diam dan tanpa bergerak sedikitpun. Kakinya dingin, tangan nya putih pucat,
dengan sangat pelan-pelan Ica membalikkan badan ibunya telentang. Ia membuka
sebagian kain tipis yang ibu nya pakai sebagai selimut. Ia mulai membuka kain
tipis itu perlahan, dan memeriksa bagian nadi di tangannya, betapa kaget nya
ica pagi itu.
“kaaakk Ca,, ibu kenapa kak. Ibu
kok ga bangun-bangun sih kak. Apa ibu pingsan? Ibu juga ga bangun waktu Ranu
peluk ibu tadi”. Isak Ranu sambil memegangi tangan Ica yang gemetar hebat
“Ibuuu,, Ibuuuu,, bangun dong
bu, ini Ica sama Ranu bu. Ibu dengar ica kan ? Ibu bangun dong. Jangan diam
saja begini dong bu, Ica sudah menyiapkan bubur kesukaan ibu di meja. Ibu
bangun dong”. Tangis Ica mulai pecah
“ibuuuuuuuuuuu...”.. teriak Ranu
dan Ica bebarengan.
“jangan pergi bu, Ranu ikut bu.
Ranu mau ikut ibu, Ranu mau nemenin ibu ketemu sama ayah. Ibu tolong bangun,
Ranu sama kakak sama siapa setelah ini bu, Ranu butuh ibu, Ranu masih mau
buktiin ke ibu kalau Ranu bisa jadi dokter biar bisa ngobatin ibu. Kenapa ibu
pergi bu, kenapa ibu ga mau nunggu Ranu dulu sampai jadi dokter”. Tangis Ranu
semakin menjadi ketika ia tau bahwa ibunya sudah tidak ada.
Pagi itu merupakan pagi paling kelam dalam
hidup kakak beradik itu. Seakan dunia nya runtuh seruntuh-runtuhnya. Hatinya
hancur, dan mereka berdua belum pernah merasakan sakit yang seperti itu selain
harus ikhlas di tinggalkan harta paling berharga dalam hidupnya satu-satunya
setelah ayahnya tiada. Tangisnya semakin menjadi ketika kenyataan memukul talak
mereka. KEHILANGAN !
“Beristirahatlah dengan tenang bu, selamat
berbahagia dengan ayah disana. Salam untuk ayah ya bu kalau nanti ketemu, kami
kangen. Dan Ica janji bakalan jagain Ranu bu. Ica janji”. Ucap Ica sambil
menangis di atas pusara ibunya dengan sangat erat memeluk Ranu yang masih terus
menangis
Postingan Populer
Bagaimana (?)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Mengapa ?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar