Langsung ke konten utama

Unggulan

Sapa ku kepada Langit

Haii langit, bagaimana kabar hari ini ?  Semoga baik-baik ya dan selalu baik-baik saja Hari ini hari paling menyedihkan setelah penantian 1,5th ku, ak membuang begitu saja kesempatan yang kemungkinan akan menjadi nyata Kesalahan terbesar ku dalam membuat suatu keputusan, dan sekarang ak kehilangan segala nya. Segala semoga yg ak selalu berharap semesta akan memberikan amin paling serius nya untukku Hai langit, senang bisa mengenalmu meski sesingkat senja. Senang rasaku tetap ada disini meski entah kapan waktu itu menjadi penghantar kepergian rasa ku untukmu Namun meski begitu ak tidak akan pernah mengambil alih paksa agar perasaan ku dengan cepat hilng untukmu Saat ak memilih untuk memupuk perasaan ini, aku sudah siap dengan segala konsekuensi sakit bahkan patah untuk kesekian kali Karena pada dasarnya hati akan tetap kekeh pada rasanya meski harus berujung patah berkali kali Hai langit, jika ini yang terakhir kali nya ak bersapa dengan mu, akan aku abadikan dirimu dalam satu ruang...

Akhir dari sebuah perjalanan hidup

 

Akhir dari sebuah perjalanan hidup

 

     Pagi itu sinar mentari masuk melalui celah-celah dinding yang tampak berongga diatas jendelanya. Seperti biasanya, Ranu menyiapkan sepeda kayuhnya yang akan dia bawa ke sekolah. Pagi itu ibunya tampak berdiri di depan pintu untuk mengantar Ranu yang akan pergi ke sekolah. Dan tepat di sebelah rumah, Ica kakak Ranu sedang menyiapkan dagangannya untuk di jajakan keliling komplek.

                “Bu, Ranu berangkat sekolah dulu ya. Ibu jangan lupa makan dan di minum obatnya. Ibu istirahat saja di rumah. Daa kakak semangat ya kak jualannya hari ini, semoga laris manis”. Teriak Ranu sembari mengayuh sepedanya menuju jalanan depan rumah.

                “Heii jangan ngebut-ngebut naik sepedanya, liatin jalan kamu, jangan ngawur”. Balas ibunya sedikit khawatir karena melihat Ranu yang mengayuh sepeda nya begitu cepat.

                “Adik selalu begitu bu kalau dikasih tahu. Suka bandel enggak dengerin apa kata ibu sama kakak nya. Sudah ya bu, ibu masuk saja sekarang ke dalam, istirahat. Karena Ica mau berangkat menjajakan dagangan bu, biar enggak kesiangan. Doakan Ica hari ini semua dagangan ini habis terjual”. Tutup Ica sembari membawa tas dagangannya

                “aminnn,, semoga kali ini dagangannya habis ya ca, dan kamu bisa pulang lebih awal lagi seperti beberapa hari lalu”. Jawab ibu sambil tersenyum penuh harap

     Seperti biasa Ica menjajakan dagangannya melewati gang demi gang komplek yang sempit itu. Sambil berjalan dan berteriak menjajakan dagangannya. Dengan langkah kaki yang penuh semangat dan tanpa mengeluh meski terkadang kaki nya lelah karena melangkah begitu jauh. Namun ia harus tetap semangat karena ada 2 orang yang bergantung kepada nya. Bagaimana tidak, ia harus membeli obat untuk ibu nya yang tidak murah harga nya di setiap minggunya. Dan ia masih harus membayar sekolah nya Ranu yang nunggak 2 bulan belum ia bayarkan. Semenjak ayah nya meninggal semua tanggung jawab ada padanya karena ibu nya mengidap Leukimia yang dimana setiap minggunya harus menebus obat yang tidak tercover jaminan kesehatan.

                “Ya Tuhan, uang yang aku kumpulkan saja masih belum bisa untuk menebus obat ibu untuk seminggu ke depan. Lantas bagaimana aku bisa membayar sekolah nya Ranu yang sudah nunggak 2 bulan itu”. Gumam nya dalam hati sambil sejenak merebahkan badannya yang capek sekali seharian sudah bekerja.

                “Tokk! Tokk! Tokk! Caa, sudah tidur belum ? boleh ibu masuk sebentar ? ibu mau bicara sama kamu sebentar nak”. Suaraa ibu dari luar yang membuyarkan lamunan Ica malam itu

                “Iya bu, masuk saja. Pintu nya belum Ica kunci kok”

                “Caa, ini ibu masih punya satu cincin peninggalan ayah kamu. Kamu jual saja ya Ca, buat tambah bayar sekolah adik kamu yang belum di bayar 2 bulan. Kasian nanti adik kamu tidak bisa ikut ujian semester”. Ucap ibu sambil memberikan cincin itu ke tangan Ica

                “Buu, tapi ini peninggalan ayah satu-satunya yang masih ibu punya. Jangan bu, biar Ica saja yang memikirkan bagaimana cara membayar uang sekolah Ranu yang masih nunggak. Ini Ibu simpan saja ya, untuk simpanan ibu saja. Uang sekolah Ranu Ica sudah ada Bu, ibu tenang saja ya”. Jawab Ica dengan sedikit berbohong

     Malam itu adalah malam untuk kesekian kalinya Ica berbohong kepada Ibunya perihal uang yang akan di pakai untuk membayar uang sekolah Ranu yang nunggak. Sambil memeluk ibunya Ica menahan tangisnya agar tidak terlihat oleh ibu nya. Begitu sakit hatinya melihat ibunya sakit, sedang ia tidak bisa kerja yang menghasilkan uang banyak untuk membeli obat dan melunasi uang tunggakan sekolah Ranu.

     Semakin ia memikirkan dan meratapi kesedihan dari keadaannya, semakin lelah mata dan pikirannya yang pada akhirnya membuat ia terlelap dan tertidur. Melepas segala rasa lelah dan penat yang melekat di badannya. Hingga tanpa terasa pagi pun telah hadir menyapa bersama sinar matahari yang enggan lenyap seiring berlalu nya embun pagi yang menempel pada lembaran-lembaran daun.

     Pagi itu Ica tidak menjajakan dagangannya. Karena ia berniat untuk pergi kesekolah Ranu untuk membayar tunggakan uang sekolah dan membeli obat untuk ibu nya. Tapi pagi itu Ica tidak melihat ibunya seperti pagi biasanya, ibunya saat itu masih terbaring diatas tempat tidur dan seperti enggan untuk bangun.

                “Buuu,, kok ibu belum bangun, Ranu mau pamit pergi kesekolah bu. Kakak hari ini tidak jualan bu, karena kakak bilang mau ke sekolah Ranu”. Kata Ranu sambil berlari memeluk ibunya yang masih di atas kasur tertidur

                “Ibu cepat sembuh ya, Ranu kangen di masakin sama ibu, Ranu kangen nanam bunga di pot sama ibu, kangen semuanya aktivitas yang Ranu lakuin bareng sama ibu”. Ranu minta maaf ya bu, Ranu masih ngrepotin kakak terus, Ranu janji bu bakalan rajin sekolah, biar Ranu bisa dapet beasiswa sekolah sampai kuliah nanti. Ranu mau jadi dokter bu, biar Ranu bisa sembuhin ibuu, biar kakak tidak perlu lagi susah-susah cari uang untuk beli obatnya ibu. Ranu sayang sekali sama ibu, ibu jangan pernah tinggalin Ranu sama kakak ya bu, tunggu Ranu sampai sukses, bahagiain ibu dan kakak”. Ucap Ranu yang masih terus memeluk ibunya sambil memegang erat tangan ibu nya

     Dari arah belakang tampak Ica menghampiri Ranu yang masih memeluk ibunya.

                “Buu,, Ica pergi ke sekolah Ranu dulu ya mau bayar tunggakan uang sekolah. Setelah itu Ica mau mampir ke rumah sakit untuk menebus resep obat ibu”. Tungkas Ica pagi itu berpamitan

                “Ica juga sudah membuatkan bubur ayam untuk ibu diatas meja, setelah ini ibu bnagun dan makan ya bu. Obatnya tinggal satu, jangan lupa ibu minum ya. Ica sama Ranu berangkat dulu ya bu”. Pungkas Ica

     Namun kali ini tidak ada jawaban ketika mereka berpamitan pagi itu. Ibu tetap saja diam membelakangi mereka berdua, diam dan tanpa bergerak sedikitpun. Kakinya dingin, tangan nya putih pucat, dengan sangat pelan-pelan Ica membalikkan badan ibunya telentang. Ia membuka sebagian kain tipis yang ibu nya pakai sebagai selimut. Ia mulai membuka kain tipis itu perlahan, dan memeriksa bagian nadi di tangannya, betapa kaget nya ica pagi itu.

                “kaaakk Ca,, ibu kenapa kak. Ibu kok ga bangun-bangun sih kak. Apa ibu pingsan? Ibu juga ga bangun waktu Ranu peluk ibu tadi”. Isak Ranu sambil memegangi tangan Ica yang gemetar hebat

                “Ibuuu,, Ibuuuu,, bangun dong bu, ini Ica sama Ranu bu. Ibu dengar ica kan ? Ibu bangun dong. Jangan diam saja begini dong bu, Ica sudah menyiapkan bubur kesukaan ibu di meja. Ibu bangun dong”. Tangis Ica mulai pecah

                “ibuuuuuuuuuuu...”.. teriak Ranu dan Ica bebarengan.

                “jangan pergi bu, Ranu ikut bu. Ranu mau ikut ibu, Ranu mau nemenin ibu ketemu sama ayah. Ibu tolong bangun, Ranu sama kakak sama siapa setelah ini bu, Ranu butuh ibu, Ranu masih mau buktiin ke ibu kalau Ranu bisa jadi dokter biar bisa ngobatin ibu. Kenapa ibu pergi bu, kenapa ibu ga mau nunggu Ranu dulu sampai jadi dokter”. Tangis Ranu semakin menjadi ketika ia tau bahwa ibunya sudah tidak ada.

     Pagi itu merupakan pagi paling kelam dalam hidup kakak beradik itu. Seakan dunia nya runtuh seruntuh-runtuhnya. Hatinya hancur, dan mereka berdua belum pernah merasakan sakit yang seperti itu selain harus ikhlas di tinggalkan harta paling berharga dalam hidupnya satu-satunya setelah ayahnya tiada. Tangisnya semakin menjadi ketika kenyataan memukul talak mereka. KEHILANGAN !

“Beristirahatlah dengan tenang bu, selamat berbahagia dengan ayah disana. Salam untuk ayah ya bu kalau nanti ketemu, kami kangen. Dan Ica janji bakalan jagain Ranu bu. Ica janji”. Ucap Ica sambil menangis di atas pusara ibunya dengan sangat erat memeluk Ranu yang masih terus menangis

 

 

Komentar

Postingan Populer