Langsung ke konten utama

Unggulan

Sapa ku kepada Langit

Haii langit, bagaimana kabar hari ini ?  Semoga baik-baik ya dan selalu baik-baik saja Hari ini hari paling menyedihkan setelah penantian 1,5th ku, ak membuang begitu saja kesempatan yang kemungkinan akan menjadi nyata Kesalahan terbesar ku dalam membuat suatu keputusan, dan sekarang ak kehilangan segala nya. Segala semoga yg ak selalu berharap semesta akan memberikan amin paling serius nya untukku Hai langit, senang bisa mengenalmu meski sesingkat senja. Senang rasaku tetap ada disini meski entah kapan waktu itu menjadi penghantar kepergian rasa ku untukmu Namun meski begitu ak tidak akan pernah mengambil alih paksa agar perasaan ku dengan cepat hilng untukmu Saat ak memilih untuk memupuk perasaan ini, aku sudah siap dengan segala konsekuensi sakit bahkan patah untuk kesekian kali Karena pada dasarnya hati akan tetap kekeh pada rasanya meski harus berujung patah berkali kali Hai langit, jika ini yang terakhir kali nya ak bersapa dengan mu, akan aku abadikan dirimu dalam satu ruang...

Melatiku layu sebelum berkembang

Pernahkah sesekali kau meratapi langit yang begitu tinggi dengan segala misteri didalam nya ?
Pernahkah kau menyalahkan segala isi langit malam atas lara ketidakwarasan mu mengagumi nya ?
Pernahkah ujung tatapmu berubah menjadi tangis dan segala nya terjawab oleh tetes air mata mu ?
Menggerutu dengan lirih bersamaan dengan tatap tetes air mata menceritakan dengan lidah kelu 
Berharap semesta kali ini mengerti tanpa ada sepatah kata pun keluar dari arah bibir yang kelu, namun kembali aku salah
Terus menerawang dalam sebuah ingatan yang sudah jelas membuat pelik lara kali ini semakin nyata 
Salah kali ini ada pada harapan diri yang mengharapkan atas ketidakmungkinan yang tidak akan pernah terjadi 
Awal dari sebuah bahagia hingga menjadi kelu dalam ucap 
Kala itu diri ini salah menempatkan sadar diri yang ia punyai, yang menganggap suatu hari melati itu akan mekar dan mewangi 
Namun naas nya melati itupun layu sebelum berkembang, mengiringi sadar diri yang kian sadar atas ketidakmungkinan 
Salahku membiarkan ketidakmungkinan itu terus hidup, memenuhi seisi jiwa 
Dan kini aku melihat melatiku layu, dan sebentar lagi akan mati dan tidak akan pernah berkembang lagi menjadi bunga yang sangat indah dan wangi
Maaf ku kepada diri ini, dan langitpun sekali lagi membuat ku tersadar dalam tamparan malam 
 

Komentar

Postingan Populer